Sunday, September 23, 2012

Menyibak Misteri Arcopodo Gunung Semeru


13480172551378044585
Gunung Semeru dengan awan erupsinya, dilihat dari Desa Ranu Pani
Mahameru berikan damainya
Di dalam beku Arcapada
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa
-Mahameru-

Demikianlah potongan lirik lagu Mahameru yang populer di pertengahan dekade 1990-an, yang membawa pendengarnya hanyut dalam romantisme persahabatan para pendaki gunung. Persahabatan yang menghangatkan dinginnya suhu gunung tertingi di Pulau Jawa. Sebuah lirik yang cukup untuk mewakili suasana pendakian dari Desa Ranupani hingga Puncak Mahameru.
1348017362825075244
Norman Edwin Berpose Bersama Arcopodo Tahun 1984
Sepotong lirik tersebut telah meninggalkan misteri bagi para pendaki tentang Arcopodo. Apa dan di manakah Arcopodo? Setiap pendaki yang berhasil mencapai Puncak Mahameru sudah pasti akan melewati Pos Arcopodo. Arcopodo dalam bahasa Jawa Kuno berarti Archa = arca Padha = tempat, merupakan sepasang arca tertinggi di Pulau Jawa yang terletak pada ketinggian 3002m dpl. Namun anda pasti akan kecewa ketika tidak mendapati sepasang arca tersebut di Pos Arcopodo, karena memang letaknya tidak di pos tersebut. Setelah dipublikasikan oleh Almarhum Norman Edwin, keberadaan sepasang arca ini seolah tenggelam dalam cerita-cerita para pendaki Gunung Semeru.
13480176021296537634
Foto Terbaru Arcopodo
Bertahun-tahun keberadaan arca ini menjadi misteri di kalangan pendaki, termasuk saya yang sudah beberapa kali mendaki ke Gunung Semeru. Sebuah kesempatan langka untuk mendampingi tim Ekspedisi Cincin Api Kompas ke Gunung Semeru akhirnya menjawab misteri yang selama ini memenuhi rasa penasaran saya. Ekspedisi Cincin Api Kompas merupakan ekspedisi lintas media yang terdiri dari Kompas Cetak, Kompas TV, dan Kompas.com dalam rangka menggali informasi mengenai pengaruh aktifitas vulkano-tektonik terhadap peradaban manusia. Sebuah ekspedisi menggali kearifan masyarakat lokal dalam menyikapi aktifitas kerak bumi yang terus bergerak dan tidak jarang menimbulkan bencana. Cincin api (ring of fire) merupakan istilah untuk menyebut daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudera Pasifik, sehingga sering disebut Cincin Api Pasifik. Daerah ini berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 km.
134801773229797699
Arca Sebelah Kiri
Tidak ada yang istimewa bagi saya dalam pendakian ke sekian kalinya ini, kecuali bertemu jurnalis-jurnalis media massa nasional yang tidak pelit untuk membagi ilmu. Berinteraksi dengan para pengangkut logistik ekspedisi dengan dialek Tengger yang mereka tuturkan, merupakan sisi menarik lainnya yang saya peroleh. Tentu yang paling istimewa adalah perjumpaan saya dengan sepasang arca yang tersembunyi di punggungan tipis berbatas jurang-jurang nan dalam.
Setelah sukses mencapai Puncak Mahameru pada hari ketiga walau harus dihajar angin kencang, seluruh anggota tim ekpedisi kembali ke Pos Arcopodo untuk menyantap sarapan yang telah disiapkan tim pendukung. Sesuai rencana, kami akan mencoba menemukan sepasang arca tersebut dengan bantuan pemandu lokal yang bertugas sebagai pengangkut logistik tim ekspedisi.
Parningot Sinambela, demikianlah nama lengkap Pak Ningot yang telah menjadi teman saya selama menjadi sweeper/penyapu sepanjang perjalanan dari Desa Ranupani hingga Pos Kalimati. Beliau bercerita banyak tentang perjalanan hidupnya hingga bisa “terdampar” di Desa Ranupani yang jauh dari mana-mana ini. Berasal dari Asahan, sempat berjuang hidup di Jakarta hingga akhirnya berjodoh dengan gadis di pedalaman jajaran Pegunungan Tengger. Kini beliau hidup damai dengan ladang pertanian nan subur yang selalu mendapat nutrisi dari letusan Gunung Bromo dan Gunung Semeru.
13480178431981553394
Arca Sebelah Kanan
Kami harus naik kembali hingga batas vegetasi sebelum menyeberang cerukan-cerukan lahar untuk mencari punggungan di mana arca tersebut berada. Cerukan pertama berhasil kami lewati dengan lancar, namun tidak demikian dengan cerukan-cerukan berikutnya yang dirintis oleh Pak Ningot. Sungguh bukan perjalanan yang aman ketika harus melintasi cerukan aliran lahar ini, sedang di ujung cerukan telah menanti jurang-jurang yang cukup untuk meremukkan tulang. Saya pun terpaksa merintis jalur yang lebih aman untuk tim, sedangkan Pak Ningot telah bersantai sambil rebahan di bawah pohon cemara. Nampaknya beliau telah menemukan punggungan yang di maksud.
Seluruh anggota tim ekspedisi telah berhasil melewati kurang lebih lima cerukan yang nampak seperti guratan di tubuh Gunung Semeru ketika kita lihat dari jauh. Beristirahat sejenak di bawah teduhnya cemara gunung (Casuarina junghuhniana). Perjalanan kembali dilanjutkan dengan menuruni punggungan yang diyakini merupakan tempat kedua arca berada. Tak sabar rasanya untuk segera berjumpa dengan sepasang arca tersebut sehingga langkah tak terasa mengayun begitu cepat. Sesekali pandangan kami tujukan ke dalam jurang yang membatasi tempat kami berpijak. Langkah saya terus mengayun meninggalkan rombongan hingga pandangan terhenti pada lembaran atap seng yang acak-acakan. Berpaling ke belakang menatap wajah Pak Ningot, terdengar ucapan beliau yang mengisyaratkan kegembiraan, “nah.. itu dia” ujar beliau
1348017966249742303
Rekan Saya -Prasetyo Budi- Tengah Berpose di Depan Arcopodo
Tak tergambar kegembiraan saya ketika berhasil berjumpa dengan sepasang arca yang telah menjadi misteri di kalangan pendaki. Masih persis dengan publikasi Norman Edwin, sepasang arca yang sudah sulit untuk dikenali karena kedua kepalanya telah terpotong. Arkeolog Universitas Negeri Malang, Bapak Dwi Cahyono yang juga ikut dalam ekspedisi ini hingga hari kedua, menduga salah satu arca merupakan arca Bima yang merupakan perwujudan Siwa sebagai simbol penolak bala, dalam hal ini adalah untuk menolak amarah Gunung Semeru. Sepasang arca ini tepat menghadap ke utara, sehingga apabila kita menghadap ke arca tersebut pandangan kita juga akan tepat mengarah ke Puncak Mahameru.
1348018069622349935
Dokumentasi Arcopodo Koleksi Museum Tropen, Belanda
Masih terdapat sesaji berupa hasil bumi yang kami perkirakan berusia tidak lebih dari satu bulan. Walaupun arca ini sulit diakses, masyarakat Hindu Tengger masih rutin bersembahyang di situs ini. Mungkinkah ini arca yang sama dengan yang ada di foto koleksi Museum Tropen Belanda? Di mana dalam foto tersebut arca masih memiliki kepala, namun jumlahnya hanya satu buah. Tentu perlu tinjauan lebih mendalam untuk sampai pada kesimpulan itu. Satu yang pasti, Arcopodo bukanlah mitos yang menjadi bumbu cerita para pendaki di dalam tendanya. Arcopodo biarlah tetap di sana, di tempat yang menjadikannya sangat bernilai. Di tempat yang telah puluhan tahun setia melindunginya dari ancaman kolektor barang antik. Biarkan Arcopodo tetap menjalankan tugasnya “menjaga” amarah Gunung Semeru.

No comments:

Post a Comment